(Artikel ke 3)
Mudzakkir Hafidh
Sebenarnya problematika ketidakmandirian guru termasuk sekolah bahkan kepala sekolah terhadap sebagian prilaku, sikap dan harapan sebagian orang tua yang merasa punya kewenangan lebih/hak lebih dalam proses pendidikan anak sudah ada sejak awal tahun 2000 an, dulu orang tua sangat hormat kepada guru begitu juga para murid juga sangat menghormati guru, namun sekarang terbalik orang tua sudah berkurang hormatnya kepada guru, bahkan anak didik sekarang juga mulai kurang hormat kepada guru.
Karena merasa membayar lebih tinggi, sebagian guru dan kepala sekolah di sekolah-sekolah swasta level menengah ke atas seakan-akan lebih menjadi buruh, maaf mungkin pembantu, dan bukan lagi guru dalam pengasuhan dan pembimbingan anak mereka. Guru tidak lagi sekeramat dulu yang dihormati sebagaimana orang tua bagi anak di rumah. Para orang tua menuntut anaknya diperhatikan secermat mungkin, mulai datang di sekolah sampai pulang kembali, anak dalam keadaan utuh dan sehat.
Tidak jarang orang tua keburu marah-marah ketika anaknya sepulang sekolah bercerita kepadanya kalau tadi habis berkelahi, jatuh atau yang lain di sekolah. langsung saja ia marah kepada guru wali kelas anaknya, agar sang guru lebih memperhatikan. tanpa bertanya kronologi sebab musabab kejadiannya. bahkan tak jarang orang tua lebih percaya kepada cerita anaknya daripada cerita gurunya. sungguh ironis….
Dalam persoalan yang lain, tidak jarang orang tua mendatangi guru di kelas untuk marah-marah karena sang guru habis menghukum anaknya, bukannya malah berterima kasih malah memprotes keputusan guru tersebut. bahkan mengancam membawa kasus anaknya ke pengadilan. namanya manusia, guru juga bisa khilaf mungkin sang guru tadi menyuruh berdiri karena sifat keterlaluan siswa sekarang. mungkin ia dalam keadaan yang sudah diambang kesabarannya….sehingga ia menghukum siswa tersebut.
Ironis lagi…prilaku orang tua di berbagai sekolah swasta mahal/elit itu ditiru oleh para orang tua di Sekolah Negeri yang gratis dan siswa dalam 1 kelasnya melebihi standar penyelennggaraan pendidikan, dengan alasan bahwa biaya pendidikan sudah ditanggung oleh negara, mereka menuntut perhatian guru lebih lagi dalam hal pelayanan pendidikan. sehingga tak jarang mereka memprotes guru karena menurut mereka sang guru kurang perhatian kepada anaknya, misalnya tempat duduk anak mereka, PR yang banyak, guru memarahi siswa, anaknya luka sedang guru tidak tahu, anaknya pulang sementara guru tidak tahu, penentuan rangking kelas, beli buku atau belajar dll.
Dalam menghadapi keadaan seperti sekarang, dimana tuntutan orang tua yang berat, maka sebagian guru dan kepala sekolah bersikap aman yaitu cenderung melaksanakan teori pembiaran yang penting tidak ada hal yang menyebabkan kecelakaan siswa, misalnya.
- anak bersalah paling dinasehati….gak ada hukuman bagi siswa bersalah…
- ketika ada siswa yang berulah atau tidak mengikuti pelajaran dengan baik, sedang orang tua mereka senang protes, maka sang guru membiarkan saja….dari pada nanti salah mengambil kebijakan….
- ketika kenaikan kelas…ada siswa yang tidak bisa mengikuti pelajaran….orang tua minta dinaikkan kelas…orang tua mengancam untuk memberitakan di koran …..lagi-lagi sekolah tidak berdaya…guru mengadakan remidi berkali-kali…agar siswa tersebut bisa naik kelas. sekali lagi guru dan kepala sekolah bermain aman. sebab katanya sekarang gak ada siswa yang gak naik kelas. sebab jika siswa gak naik kelas maka yang salah gurunya….wah pas…pendapat ini.
- dan lain-lain
Melalui tulisan ini, saya mengajak rekan-rekan guru sebisa mungkin agar tidak larut dan cepat sadar bahwa kedudukan kita adalah sebanding dengan orang tua, mari kita bersifat profesional, kita laksanakan pekerjaan kita dengan tanggung jawab dengan penuh keikhlasan, kita niati sebagai ladang ibadah kita, demi masa depan anak bangsa. percayalah tidak semua orang tua seperti di atas..selamat menjalankan tugas…sukses selalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar